Imamah VS Khilafah, Musnahnya Sebuah Peradaban

Startegi.id- Kisah kisah agama Samawi acapkali bercerita tentang catatan perjalanan para pencerah yang terlahir menjadi utusan bagi suatu kaum. Namun sungguh ironis di akhir kisah perjalanannya selalu saja menyisakan tragedi yang terus berulang dari waktu ke waktu.
Para pendukung, penggemar, penikmat sekaligus penyembah nafsu angkara murka seakan tidak pernah berhenti untuk berupaya melanggengkan kekuasaan dan mengukuhkan dominasinya dengan berkeras upaya menyingkirkan para utusan Tuhan berikut pewaris dan pelestari ajarannya.
Lihat saja apa yang dialami Ya’qub tatkala harus menghadapi kenyataan bahwa 12 anaknya terbelah menjadi dua golongan. Yusuf salah satu anaknya ternyata harus jadi korban aniaya dan percobaan pembunuhan dari 10 saudaranya yang iri dan dengki atas keterpilihan Yusuf sebagai anak yang terwarisi meski pada akhirnya proses waktu pula yang membuktikan dan mengukuhkan kemuliaan dirinya sebagai Perdana Menteri di Mesir di bawah pemerintahan Raja Amenemhat III.

Demikian pula dengan Daud yang di akhir perjalanannya harus diperhadapkan pada situasi pergantian kepemimpinan yang penuh intrik politik perebutan kekuasaan. Anak Daud dari ibu Hagit yang bernama Adonia berkoalisi dengan seorang panglima bernama Yoab dan imam besar Abyatar melakukan manuver politik dengan mengangkat dirinya menjadi Raja secara sepihak tanpa sepengetahuan Daud tentunya juga tanpa melibatkan sejumlah orang yang ditengarai sebagai lawan politik termasuk Sulaeman diantaranya.

Namun Tuhan punya agenda prerogatifnya sendiri yang tak bisa diveto oleh ciptaanNya yang manapun. Apapun jalan ceritanya, Sulaeman akhirnya tetap menjadi Raja yang sahih atas kehendakNya.

Selepas Daud, Sulaeman atau Salomo juga mengalami situasi yang setali tiga uang. Perseteruan antara Rehabeam anak Sulaeman yang didukung oleh anak suku bani Yusuf keturunan Ephraim dan suku Benyamin secara vis a vis berhadapan dengan Yerobeam yang bukan dari garis keturunan Daud tetapi terpilih secara “demokratis” dengan dukungan rakyat dari 10 suku yang berkoalisi dengan Hadad dari suku Edom dari garis Esau saudara Ya’qub.

Perseteruan ini akhirnya memecah kerajaan menjadi dua dan berujung pada peperangan yang berlangsung puluhan tahun, Yehuda yang beribukota di Yerusalem dan Israel yang beribukota di Samaria. Lagi lagi proses waktu yang berjalan akhirnya membuktikan siapa sesungguhnya Yerobeam sang Raja pilihan rakyat yang justru “sukses” mengembalikan penyembahan berhala di kerajaan Israel dengan membangun patung berhala berupa lembu jantan terbuat dari emas.

Di masa Isa, ajaran Musa telah terpecah menjadi 3 faksi agama Yudaisme yang dikenal sebagai kaum Saduki, Pharisi dan Essenes. Isa jelas menentang praktek ajaran Musa yang telah disimpangkan oleh kaum Saduki dan Pharisi, sementara faksi Essenes meski minoritas dibanding Saduki dan Pharisi masih bersetia untuk menjaga kemurnian ajaran Musa.

Maka tak heran jika ajaran Isa oleh kaum Essenes bisa diterima karena dianggap sebagai upaya pelurusan terhadap penyimpangan praktek ajaran Musa yang dilakukan oleh kaum Saduki dan Pharisi.

Baik ajaran Musa maupun ajaran Isa terdokumentasi secara baik oleh kaum Essenes dengan ditemukannya dokumen penting berupa gulungan kertas papyrus di dalam gua sekitar Qumran dimana kaum Essenes bermukim dekat Laut mati yang berbatasan dengan Yordania.

Dokumen yang kemudian dikenal sebagai Dead Sea Scrolls ditemukan sekitar akhir 1940an oleh seorang anak gembala .

Di penghujung perjalanan kenabian Isa, kaum Saduki dan Pharisi sepakat berkoalisi dengan Romawi untuk menghabisi Isa dan seluruh pengikutnya termasuk kaum Essenes yang telah distigma sebagai musuh bersama karena dituduh merongrong kemapanan dan kewibawaan mereka sebagai penguasa baik secara politik maupun agama.

Kaum Essenes yang menjadi korban pengejaran dan pembantaian harus melarikan diri dari Qumran dan hengkang ke Jazirah Arab melalui Yordan dan hidup melebur dengan suku Quraisy untuk bersembunyi dari kejaran tentara Romawi dengan terus tetap menjaga kemurnian ajaran yang mereka imani sekaligus menunggu datangnya utusan berikutnya yang bernama Ahmad seperti yang telah dinubuatkan oleh Isa.

Itu pula sebabnya tak heran jika di masa Jahiliyah Pra-Islam di antara kaum Quraisy juga dikenal kaum Hanif yang selain pandai berniaga juga tetap setia mengikuti ajaran Tauhid yang dibawa oleh Musa dan Isa serta menolak menyembah kepada yang selain Allah Ta’ala, Tuhan Yang Maha Esa. Dari kaum Hanif inilah nasab dari Siti Khadijah isteri pertama Muhammad berasal.

Apa yang tertulis di Al Quran dalam surat Ali Imran 3:52 dan As-Shaf 61:14 tentang kaum Al-Hawariyyun yang menjadi pengikut-pengikut setia Isa seolah menjadi anggukan kepala atas keberadaan kaum Essenes yang menjadi para pengikut setia Isa sebagai orang orang yang berserah diri menjadi penolong penolong ajaran Allah Ta’ala dengan menjadi pendukung utama Muhammad SAW di awal awal pergerakan syiarnya yang sebaliknya justru mendapat tentangan dari kaum Jahiliyah Quraisy.

Seiring merosotnya hegemoni kekuasaan Romawi, ajaran Isa secara clandestine menyebar luas hingga memicu berkobarnya semangat perlawanan dan pemberontakan terhadap Kekaisaran Romawi. Suka tidak suka, mau tidak mau, demi melanggengkan kekuasaannya, Imperium Romawi akhirnya harus berkompromi terhadap perkembangan situasi yang semakin memburuk dan mengancam kelangsungan kekuasaannya dengan cara mengakuisisi ajaran Isa sebagai basis legitimasi moral untuk mengkonsolidasikan kembali imperiumnya.

Adalah Kaisar Constantine I yang berhasil menginisiasi terselenggaranya konsili pertama yaitu suatu pertemuan yang dihadiri para pemuka dari pengikut ajaran Isa. Pertemuan ini kemudian dikenal sebagai Konsili Nicaea yang diselenggarakan di Nicaea, Bursa, Turki pada 20 Mei – 19 Juni 325 Masehi yang menjadi embrio dari kelahiran Vatican Romawi.

Inilah yang menjadi dasar pembeda untuk memisahkan dengan tegas antara kaum Al-Hawariyun dengan apa yang tersurat dan tersirat di Al Quran dalam Surat Al-Baqarah 2:120 tentang kaum Nashrani (jamak : Nashara).

Terhitung lebih kurang 600 tahun kemudian sejak masa kenabian Isa, penggalan kisah kisah singkat di atas seolah menjadi sebuah proses deja vu, bagaikan kutukan sejarah yang terus saja berulang. Sepeninggalnya Muhammad SAW, para pengikutnya terbelah menjadi dua golongan besar.

Di satu pihak mereka yang ingin melestarikan dan melanjutkan ajaran ajaran Muhammad SAW dengan panduan kepemimpinan Imamah yang telah diteladankannya, sementara pihak yang lain lebih suka membicarakan isu suksesi pergantian pemimpin tentang siapa yang akan menggantikan Muhammad untuk berperan sebagai Khalifah, kata khulafa’ dan khalaif berasal dari kata khalaf yang bermakna pengganti.

Konsep Imamah yang dibawa oleh Muhammad bukan hal baru dalam tradisi ajaran Samawi yang telah berkembang di kawasan Timur Tengah sejak jaman Musa. Berbagai ajaran yang diturunkan di setiap generasi dari waktu ke waktu berasal dan berawal dari sumber yang sama sebagai satu kesatuan rangkaian ajaran yang tak terpisahkan dan saling mengabsahkan serta memuliakan satu sama lain.

Harun saudara Musa mengawali tradisi Imamah yang kemudian menjadi domain suku Lewi yang bersetia sebagai penjaga kemurnian ajaran agar secara sekuler tetap otonom dan steril serta tetap mampu bersikap kritis sebagai penjaga moral ajaran yang tidak tergiring dan terperangkap dalam konflik perebutan kekuasan.

Memisahkan kemurnian ajaran dari proses politik kekuasaan adalah suatu kemestian untuk memastikan supaya ajaran tetap menjadi payung pelindung peradaban agar kekuasaan pemerintahan tetap berjalan berdasarkan pada ketauhidan yang termanifestasi dalam perikemanusiaan yang adil dan beradab.

Namun di sisi lain, upaya untuk terus menggiring ajaran (baca : agama) masuk ke dalam wilayah politik kekuasaan semakin menguat dari waktu ke waktu untuk menjamin siapapun yang berkuasa dipastikan beroleh restu dan keabsahan moral demi mengokohkan kekuasaan sekalipun akhirnya terbukti menghianati ketauhidan dan perikemanusiaan yang adil dan beradab seperti apa yang dilakukan Adonai di masa akhir Daud, Yerobeam di masa akhir Sulaeman, juga apa yang dilakukan oleh Constantine I lebih dari 3 abad setelah kepergian Isa.

Walhasil sepeninggalnya Muhammad, perlahan tapi pasti para pewaris ajaran akhirnya terpinggirkan, ajaran hanya menjadi alat politik yang berjuluk agama dan dipekerjakan bagi kepentingan para penggila kekuasaan seperti halnya bagaimana proses suksesi pergantian Khilafah berlangsung di antara para sahabat sejak Abu Bakar ash-Shiddiq hingga Ali bin Abi Thalib yang penuh aroma amis bersimbah darah.

Selepas Khalifah Ar-Rasyidin, perebutan klaim kekuasaan dengan cara berdarah atas siapa yang lebih berhak sebagai penerus Muhammad masih terus berlanjut. Bani Umayyah yang berpusat di Cordoba (Caliphate of Córdoba), dipimpin oleh Muawiyah bin Abu Sufyan setelah mengambil alih kekuasaan dari Ali bin Abi Thalib harus menyerahkan kekuasaannya pada Bani Abassiyah keturunan dari Abbas bin Abdul-Muththalib melalui revolusi berdarah.

Belum lagi kemunculan Bani Fatimiyah yang ikut meramaikan perebutan kekuasaan kekhalifahan dengan wilayahnya meliputi Afrika bagian Utara. Kekhalifahan demi kekhalifahan hilang tumbuh berganti melalui peperangan demi peperangan hingga kekhalifahan terakhir yang ditengarai dengan runtuhnya imperium Turki Usmani.

Semua itu berlangsung untuk mengukuhkan siapa yang lebih pantas dan berhak sebagai khalaf (pengganti) Muhammad SAW dengan segala pembenaran yang dilakukan meski harus melalui perang dan pedang bersimbah darah dengan mengatasnamakan syiar Islam sebagai ajaran Muhammad yang rahmatan lil ‘alamin.

Setelah lebih kurang dari 1.500 tahun sepeninggalnya Muhammad yang diutus sebagai penyempurna ajaran, Islam terpecah belah menjadi banyak cabang aliran dan mazhab yang terus berkembang luas.

Masing masing agama aliran dan mazhab saling bertikai satu dengan yang lain untuk memperebutkan pengikut dengan pembenaran versi keislamannya demi mengukuhkan klaim kekuasaan sehingga semakin menyeret ke dalam situasi konflik yang sarat dengan perseteruan untuk saling menjatuhkan, menghujat, menghina dan menistakan agar menjadikan agama, aliran dan mazhabnya memiliki jumlah pengikut paling banyak semata demi untuk menjustifikasi dan melegitimasi kekuasaan atas umat.

Sejarah kelam masa lalu atas penyimpangan, pembelokan dan pemelintiran ajaran dari satu generasi ke generasi berikutnya kembali terulang lagi ibarat keledai yang berulang kali terantuk pada lubang yang sama.

Apa yang dilakukan terhadap Yusuf oleh sepuluh orang saudaranya, Adonai terhadap Sulaeman, Yerobeam terhadap Rehabeam, kaum Saduki dan Pharisi serta Romawi terhadap Isa AS dan kaum Essenes, juga pembantaian yang terjadi terhadap Ali bin Abi Thalib ketika sedang bersholat oleh kaum Khawarij bernama Abdurrahman bin ‘Amr bin Muljam al-Muradi yang lebih dikenal dengan panggilan Ibnu Muljam sosok ahli al-Quran dan ahli fikih.

Juga pembunuhan terhadap Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang mati diracun serta kematian Husein bin Ali bin Abi Thalib dengan kepala terpenggal di padang Karbala oleh Muawiyah hanya mempertegas bagaimana konsepsi Imamah sebagai penjaga kemurnian ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa (Tauhid) lagi lagi selalu saja ingin digagalkan oleh upaya upaya kepentingan kekuasaan atas nama nafsu kekuasaan yang berlabel kekhalifahan.

Bangkitnya gerakan khilafah secara masif, terstruktur dan sistematis diinspirasi oleh gerakan Pan Islamisme untuk membentuk negara Islam (Islamic State) seperti halnya yang dilakukan oleh Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS), didalam prosesnya diperkuat dengan basis ideologi salafi-wahabi yang menggunakan cara dan ciri serupa dengan apa yang dilakukan oleh kaum Khawarij ketika mereka menentang Rasulullah Muhammad SAW karena merasa lebih memahami Islam.

Agama, dalam hal ini Islam, tidak lebih hanya sekedar alat legitimasi dan justifikasi untuk memastikan Imamah musnah dan punah sampai ke akar akarnya.

Ketuhanan Yang Maha Esa (Tauhid) yang sejatinya menjadi fondasi utama dari semua ajaran untuk mengembalikan peradaban pada hubungan atas dasar welas asih antar sesama, baik sesama manusia maupun sesama mahluk ciptaan telah berada di ambang kemusnahan dan kepunahan.

Ironisnya, mereka yang masih mampu berpikir kritis malah lebih suka berpaling meninggalkan semua urusan yang terkait dengan agama lalu memilih untuk bersikap skeptikal bahkan apatis dengan menjadi atheis atau setidaknya agnostik meski mereka sendiri sesungguhnya mengalami disorientasi dalam memaknai hidupnya sehingga terjebak dalam pragmatisme hidup yang sangat liberalistik, invididualistik, materialistik dan hedonistik.

Tatkala ajaran ajaran Tauhid telah mengalami kemunduran dan keterpurukan hingga mengikis habis ketauhidan dan menistakan kemanusiaan yang adil dan beradab, di saat itu pula peradaban umat manusia berada di titik nadir terendah.

Tinggal tunggu saatnya tiba alam akan menyatakan mosi tidak percaya atas eksistensi kemuliaan manusia di muka bumi dan mengambil alih kuasa peradaban untuk menyelamatkan bumi dari kehancurannya. Di saat itu pula sejarah peradaban umat manusia telah berakhir.